INTELEKTUAL CRUS
Aku tahu bahwa kamu akan membaca tulisanku ini, tulisan yang sengaja kutulis hanya untukmu, kuharap kamu mengerti maksudku. Aku menulis bukan sebagai pengakuan, melainkan sebagai jejak perasaan yang terlalu rapi untuk disebut rindu, terlalu tenang untuk disebut cinta, dan terlalu dalam untuk disebut sekadar kagum. Aku hanya ingin kau tahu satu hal bahwa ada seseorang yang mengagumimu dalam diam, tanpa suara, tanpa tuntutan, tanpa ingin memiliki, cukup dengan menyimpanmu sebagai doa di antara senja dan sepi.
Aku bukan si pintar yang selalu jadi juara satu, bukan pula si rupawan yang bikin semua mata terpaku. Aku hanya seseorang yang mencoba setia pada Tuhanku, meski kadang hatiku ikut bergetar saat melihat senyummu. Tentang aku,? aku mudah baper pada perhatianmu, tapi aku juga mudah sadar kalau semua itu belum tentu untukku. Aku suka caramu menjaga tutur katamu, tapi aku lebih suka saat kau menjaga pandanganmu.
Ada rasa yang tidak pernah diucapkan, bukan karena tidak ingin disampaikan, tapi karena terlalu takut kehilangan. Bukan karena tak cukup dalam, tapi karena takut jika rasa ini justru merusak pertemanan. Bukan karena tak ingin dekat, tapi karena takut harapan tak berujung kenyataan. Maka aku memilih diam, dan menyimpannya rapat-rapat dalam kesetiaan. Kesetiaan itu bukan hanya milik mereka yang telah saling menyatakan. Tapi juga milik orang-orang yang memilih bertahan, meski tanpa kepastian.
Ada rasa yang cukup disimpan dalam doa panjang setiap malam. Ada rasa yang cukup dirawat dalam diam, agar tidak merusak apa pun yang telah dibangun perlahan-lahan. Karena cinta sejati bukan tentang seberapa keras aku memperjuangkan, tapi seberapa tulus aku menjaga tanpa tuntutan. Aku mengagumimu tanpa pengakuan, tapi setiap langkahku adalah bagian dari kesetiaan, setiap hari aku belajar menundukkan harapan, agar tidak berubah menjadi tekanan. Aku belajar ikhlas menerima keadaan, bahwa kadang cinta hanya dititipkan untuk ujian.
Dalam pertemuan yang tak pernah dipaksa, ada takdir yang diam-diam menyusun rencana, bukan dua hati yang saling mengejar tanpa arah, tapi satu jiwa yang memilih diam agar tetap setia. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena percaya pada kuasa yang maha segalanya.
Komentar
Posting Komentar